Meski Bukan Valentino Rossi, Kamu Bisa Mengalami Apa yang Dia Alami Saat Mudik

Kamu rindu kampung halaman. Kamu ingin pulang. Dan bagi sebagian orang, perjalanan mudik bisa menjadi melelahkan, menyenangkan, bahkan mengerikan. Kamu tak akan pernah bisa menyangka hal random apa yang menunggumu di perjalanan dengan motor kesayanganmu. Apakah selamat sampai tujuan, atau berakhir tragis di jalanan beraspal? Sebelum menempuh jalanmu, belajarlah dari 7 hal ini dari Valentino Rossi. Agar kamu bisa lebih berhati-hati selama mudik.

Tak perlu menunggu tiket yang tak pasti. Persiapkan “peralatan tempurmu” sejak dini.


Kamu tahu tiket akomodasi sudah ludes sejak jauh-jauh hari. Kalaupun tersisa harganya sudah melambung tinggi. Sebelum menyesal karena tak jadi pulang, kamu pun memilih berpetualang.Siapkan peralatan tempurmu: motor yang memadai dan survival kit yang bisa membantumu bertahan hidup di jalanan yang panjang. Life is hard, nail it.

Ini bukan soal motor. Ini soal skill.


Kamu boleh saja membanggakan body motormu yang aduhai. Tak peduli apakah motormu selambat skuter Po atau selincah Ninja Hattori. Kemampuanmu menyetir itu jauh lebih penting untuk dipikirkan. Mudik bagi pengembara adalah cobaan hidup dan mati. Di sinilah kemampuan mengendaraimu benar-benar diuji. Bagaimana pun juga keluargamu berharap kamu pulang membawa senyum dan pelukan kerinduan untuk mereka. Bukan pulang hanya tinggal nama belaka.

Lintasan tak pernah bersahabat. Kamu tahu kapan harus berhenti.


Panas terik, hujan badai, dan macet tak berkesudahan. Tiga masalah yang menyempurnakan penderitaanmu selain lapar dan dahaga. Tapi sebagai musafir, kamu boleh tidak berpuasa. Kamu juga harus tahu diri sampai di mana ambang batas fisikmu. Istirahatlah. Bukan hanya ponsel yang butuh di-recharge, energimu juga. Saat semburan debu membuat matamu merah, peganganmu ke setang motor mulai melemah, dan pikiran yang kacau akibat lelah, kamu tahu bahwa posko mudik, POM bensin, dan masjid akan selalu terbuka menerimamu.

Kamu mungkin sudah taat aturan. Tapi akan selalu ada orang-orang yang berusaha menikungmu.


Perlengkapan safety riding-mu sudah lengkap, rambu-rambu kamu patuhi dengan hikmat. Tapi saat mudik, kamu tahu bahwa manusia bisa berubah ganas akibat lelah. Orang-orang model “anak jalanan” yang nerobos lampu merah, ngebut di trotoar, “makan” badan jalan, sampai nyerobot antrean di pom. Kamu harus mempertebal kupingmu, karena inilah saat-saat yang tidak mengenakkan. Mendadak sekitarmu penuh dengan sumpah-serapah. Sabar dan jangan terpancing. Ingat tujuan utamamu adalah sampai ke rumah, bukan cari masalah.

Sebaliknya jangan menikung. Kamu akan merasakan akibatnya meski tak langsung.


Berapa jumlah personel polisi diturunkan untuk mengamankan arus mudik lebaran? Itu semua tak akan pernah sebanding dengan jutaan pengguna jalan. Saat kamu pikir kamu lolos melanggar aturan, mengambil hak pejalan kaki, menyakiti pengguna jalan lainnya (sengaja atau tidak) yakinlah cepat atau lambat kamu akan merasakan akibatnya. Ini bukan ancaman. Polisi boleh jadi tidak menilangmu, tapi Allah yang akan membalas perbuatanmu.

Jatuh, Luka, dan rasa sakit akan membuatmu terbiasa.


Musibah itu tak mengenal usia, jabatan, dan status pernikahan.Tapi percayalah, selalu ada obat untuk setiap luka. Baik deritamu karena terjatuh, sakit kepala, diare, maag, masuk angin, bahkan sekedar lecet karena alas kaki. Rider yang cerdas akan menyiapkan kemungkinan terburuk sebelum semua terjadi. Plester, minyak angin, colidan (suplemen lambung), obat sakit kepala, anti-alergi adalah survival kit yang wajib dibawa. Pastikan kamu menyiapkannya sebelum berangkat, karena apotek belum tentu buka.

Jalan adalah tempatmu mengendalikan diri dan rumah adalah tempatmu meluapkan kebahagiaan. Bukan sebaliknya. Satu hal yang menjadi passion rider sejati. Kamu pasti sangat tergoda untuk meningkatkan speedometermu demi memuaskan ambisi. A kind of adrenaline junkie. Salip-menyalip dengan sesama mudiker (yang mungkin kebetulan juga rider), semakin menguatkan degup jantungmu untuk balapan. Kamu tak ingin kalah, dan selalu ingin menjadi yang terdepan. Tapi ingatlah. Fokus dengan tujuan utamamu, dan biarkanlah kafilah berlalu.
---
Baik kamu penggemar Valentino Rossi atau tidak, kamu akan tahu bahwa mengendarai motor ada seninya. Kamu pun juga bisa belajar selama perjalanan pulang kampung akan membuatmu lebih dewasa. Tanggung jawabmu bukan hanya untuk keselamatanmu pribadi, tapi juga pengguna jalan yang lain. Lagipula, mudik bukan soal kompetisi bukan?

Rekomendasi

COLIDAN
TIPS LAMBUNG
TIPS LAMBUNG
TIPS LAMBUNG
TIPS LAMBUNG
LIFESTYLE
TIPS LAMBUNG
TIPS LAMBUNG
TIPS LAMBUNG
LIFESTYLE
LIFESTYLE
LIFESTYLE
LIFESTYLE
LIFESTYLE
KESEHATAN
TIPS LAMBUNG
LIFESTYLE
LIFESTYLE